Lantik Pengurus Ormawa Baru, Dekan FSH Tekankan Pentingnya Adaptasi dan Integritas Hukum di Era Ketidakpastian

Matapadma

Semarang, HPI – Dekan Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Abdul Ghofur menekankan pentingnya integritas hukum dan kemampuan adaptasi di tengah dinamika zaman yang bergerak cepat dan penuh ketidakpastian. Hal ini disampaikan saat pelantikan pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa) FSH di aula Teatrikal Gedung Prof. Qodri Azizy, Kamis (19/02/26).

Dalam sambutannya, Ghofur menyampaikan bahwa keberhasilan dalam organisasi di era ini tidak hanya diukur dari jabatan, melainkan dari proses perjuangan dan pembelajaran.

“Keberhasilan tidak melulu soal duduk di kursi kekuasaan. Namun, berawal dari Organisasi inilah nanti akan menghasilkan harapan, pemberdayaan, dan perjuangan yang membuat seseorang lebih dewasa menghadapi setiap karakter,” katanya.

Ia berpesan agar pengurus organisasi tidak terjebak dalam zona nyaman atau sekadar bersantai ketika sedang berproses.

Baca Selengkapnya: Sebelum Masuk Ke Bangku Kuliah, Dema FSH Gelar Dialog publik

“Jika orang biasa tidur jam 10 malam, maka kalian sebagai aktivis mungkin baru bisa beristirahat jam 3 pagi karena harus memikirkan organisasi dan tetap harus berprestasi secara akademik. Jangan sampai waktu 24 jam terbuang sia-sia hanya untuk bersantai di kamar,” pesannya.

Senada dengan Dekan, Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) FSH, Amin Muktafa, mengajak jajaran pengurus untuk melakukan refleksi kritis terhadap kondisi gerakan mahasiswa saat ini. Ia menyoroti adanya tren penurunan kualitas intelektual yang tergerus oleh perkembangan zaman.

“Perlu kita sadari bahwasannya hari ini kita menghadapi tantangan berupa penurunan nilai organisasi, keilmuan, dan intelektual. Ini harus menjadi bahan evaluasi bersama bagi kita sebagai representatif mahasiswa di jurusannya masing-masing,” ujar Amin.

Amin juga tidak menampik adanya kendala teknis maupun miskomunikasi dalam dinamika berorganisasi. Baginya, hambatan tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari proses pendewasaan diri, terutama di tengah kompleksitas era digital yang penuh tantangan.

“Jika kita melewati jalan yang mudah, berarti kita melewati jalan yang salah. Kita harus terpaksa, lalu terpaksa, hingga akhirnya terbiasa,” tuturnya.

Baca Selengkapnya: Partisipasi UIN Walisongo dalam Penetapan Awal Ramadan 1446 Hijriyah

Di sisi lain, Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Hukum Pidana Islam, David Setiawan, menyatakan kesiapannya untuk menjaga relevansi keilmuan syariah dan hukum di tengah disrupsi digital.

“Kami menangkap pesan kuat dari Dekan mengenai era VUCA. Di tingkat jurusan, kami tidak boleh lagi hanya sekadar membuat seremoni. Fokus kami adalah bagaimana mahasiswa hukum tidak gagap teknologi (gaptek) dan tetap memiliki integritas moral,” ujarnya.

Ia berharap untuk sinergi antara mahasiswa dan birokrasi fakultas terus terjaga demi terciptanya lembaga yang mandiri.

“Semoga sinergi antara mahasiswa dan birokrasi bisa terjalin dengan bagus agar untuk menghindari terjadinya miskomunikasi,” harapnya. (Sinray)

Baca Selengkapnya: Berkah Ramadhan, Ultras Syari’ah Bagikan Ratusan Takjil Di Semarang

Leave a Reply