Oleh: M Waliyuddin

Agama memiliki fungsi sosial, sebagai Kategori dan norma yang mengatur manusia untuk mewujudkan tata kehidupan yang aman dan tertib. Mengelola Bagaimana Manusia Berkehidupan Sosial untuk Melahirkan Kehidupan yang Lebih Baik. Dan islam hadir untuk memberi rahmat kepada seluruh alam ( rahmatan lil alalmin ). Tujuannya adalah persaudaraan yang universal ( persaudaraan universal), kesetaraan ( kesetaraan ), dan keadilan sosial ( keadilan sosial ). [1] Danirimkan pada tingkat kesatuan tertuang dalam surat al hujurat ayat 9;

{يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم إن الله عليم خبير (13)

“Hai manusia, benar-benar Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang wanita dan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-orang Anda kenal-kenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Seiring berjalannya waktu, pemikiran islam menjadi variatif. Banyaknya pemeluk islam dengan Latar belakang sejarah dan lain, yang membuat pemikiran dalam islam. Sebelummnya telah banyak pemikiran yang disematkan kepada islam. Seperti islam liberal, fundamental, inklusif dan lain sebagainya.

Menurut Abdullah Saeed, ada 6 (enam) kelompok pemikir jaman Islam sekarang, yang corak menunjukkan bahwa epistimologinya berbeda: (1) The Legalist-traditionalist (Hukum (fiqh) Tradisional). yang titik tekannya ada pada hukum-hukum fiqh yang ditafsairkan dan dikembangkan oleh para ulama periode pra modern; (2) Puratan Teologis (Teologi Islam Puritan). yang memfokuskan pikirannya ada pada dimesi etika dan doktrin Islam; (3) Politikus Islam (Politik Islam). Yang kecendurungan pemikirannya adalah pada aspek politik Islam dengan tujuan akhir dari negara Islam; (4) Ekstremis Islamis (Islam Garis Keras) yang memiliki kecenderungan menggunakan kekerasan untuk melawan setiap individu dan kelompok yang dianggap sebagai lawan, baik muslim maupun non-Muslim;(5) Muslim Sekuler (Muslim Sekuler). yang beranggapan bahwa agama merupakan ilmu pribadi; dan (6) Ijtihadis Progresif (Muslim Progressif-ijtihadi). para pemikir muslim kontemporer yang memiliki penguasaan khazanah Islam klasik (periode klasik) yang cukup, dan konfigurasi menafsir ulang pemahaman agama (lewat ijtihad) dengan saya nggunakan perangkat. Metode ilmu-ilmu modern (sains, sicences sosial dan humanisties) agar dapat menambah kebutuhan masyarakat kontemporer muslim. [2]

Pada katagori yang berlangsung saat Terjangkapan pemikir muslim progresif. Yang mana yang menggerakkan mereka berfikir maju. Dengan mengejawantahkan islam dengan istilah islam progresif. Muslim Progresif sendiri menolak istilah “Islam Progresif”, karena Islam itu sendiri senantiasa progresif, akan tetapi muslim belum tentu progresif. Istilah islam progresif menunjukkan islam yang maju selaras dengan rotasi waktu dan perkembangan dunia. Menurut Dr. sahiron Syamyuddin dalam artikelnya yang berjudul “Islam Progesif, dan upaya membumikannya di indonesia”, pandangan islam progresif muncul sebagai bentuk ungkapan ketidakpuasan terhadap liberalisme yang lebih jelas pada kritik-kritik internal terhadap pandangan dan duras yang tidak bisa atau kurang sesuai dengan nilai-nilai humanis. Sementara itu, kritik terhadap modernitas, kolonialisme, dan imperalisme justru tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari gerakan liberal islam. [3]

Tujuannya sendiri untuk menjembatani masyarakat kelas bawah dan maysrakat kelas menengah dan atas perlunya acara sebuah sentuhan sosial. Ini menjadi penting untuk visi tentang keadilan sosial dan damai untuk membuat komunitas sosial berkeadilan. Mereka bersama mengkampanyekan wajah islam yang ramah, toleran dan anti kekerasan. Dengan wajah seperti diabetes, agama-agama dapat membantu dan menyumbangkan wacana islam yang terbuka ide-ide segar seperti HAM, keadilan, gender, pluralisme, dan juga pendidikan yang relevan bagi bangsa ini. yang pada dasarnya sangat terbuka dan menginginkan kehidupan yang adil, aman dan sejahtera.

Islam itu sendiri dalam konsep dan sosial revolutif yang menjadi tantangan yang bekerja pada saat yang sama dalam bahasa Arab. [4]  Ketertindasan yang menindas kaum marjinal menjadi produk pemikiran islam progresif yang di tekankan. Mereka yang mempertanyakan agama dapat menjadi alternatif bagi cengkraman kemiskinan, penindasan, pengangguran, dan ketidakadilan. Dirasa selama ini Kenyataannya masih belum banyak peran dengan pembebasannya bagi pengguna dari berbagai masalah. Semua itu tidak lepas dari masalah agama islam sendiri pada saat ini yang tidak mengedepankan prinsip keadilan.

Salah seorang peneliti muda dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amin Mudzakir masih gigih untuk mendamaikan Islam Progresif dengan Islam Liberal. Menurutnya, Islam liberal bergerak pada tataran ide, sedangkan Islam Progresif bergerak pada tataran praksis. [5] Lantas apa yang berbeda.

Ketika liberalisme islam sedang terpuruk maka ide islam menjadi pembaharu sebagai sesuatu yang lebih baru, lebih segar dan lebih memenuhi maslahat manusia. Yang dicari oleh liberalisme Islam ini dan diperlawankannya dengan “Islam yang beku”, yang tak terbukti, gagal berdenyut dan menemukan perwujudannya dalam kehidupan Islam di Indonesia, selain semakin mempersubur ekstremisme agama dan memperunyam kehidupan beragama.

Dengan konteks yang lebih baru, Islam progresif yang digagas AlFayyadl dalam artikelnya dilatarbelakangi oleh krisis yang dialami oleh “liberalisme Islam”, “aktivisme (kiri) sekuler”, dan “Islam Pasar” dan “Moderatisme Islam”. Ide-ide liberalisme Islam secara langsung tidak langsung membahas masalah yang mendunia dari bahan dasar yang menjadi penyebabnya. Alih-alih  melawan struktur sosial yang dikonstruksi kapitalisme global, liberalisme Islam untuk sistem “pasar”: yang mengarah ke persaingan dan individualisme, alienasi kearifan lokal dan kerusakan ekologis, bahkan dengan cara menggali-gali legitimasi teologisnya. [6]  Islam Progresif, tambah Fayyadl, hadir secara inklusif sebagai  platform umum  bagi masa depan tidak ada, dari akhir dunia, hati nurani dari kesadaran politik.

Pada tahap ini ketertarikan intelektual muslim terhadap sekularisasi itu tidak dapat disebut hanya sebagai ruang aspirasi dalam agama melalui agama, dengan kontemporer aspirasi “religius”, dan mesti juga dibaca sebagai aspirasi politis dan keistimewaan

 

Dalam artikel gus fayyadhl beliau mengatakan “swastanisasi islam” adalah upaya menyelaraskan Islam dengan kebutuhan kelas yang paling maju dan berkepentingan dengan pengembangan materialnya kelas borjuasi. Kebutuhan itu adalah penggunaan untuk sarana-sarana Islam bagi pembangunan kapitalisme yang terukur di Indonesia, dengan infrastruktur-infrastruktur sosial-politisnya yang kondusif, Berlin Pasar tidak mendapat gangguan dari birokrasi yang tidak efisien dan dapat berkembang, dengan modalitas adalah tatanan yang paling cocok bagi masyarakat ” akhir sejarah “

Adanya keterputusan antara wacana dan kultural yang di bangun liberalisme islam dengan sengaja, dan tidak senagaja yang selama ini tidak dilirik oleh kajian islam di indonesia. Seperti keluarga menambahkan wajah islam demokrasi, pemberdayaan wanita, tantangan dan pluralisme agama dan lain-lain. Tanpa melihat bagaimana wacana itu benar-benar mampu memajukan agenda-agenda pembebasan dari lapisan masyarakat yang paling parah dan kelas sosial yang paling dirugikan oleh proses-proses sosial dan ekonomi-politik yang terjadi.

Membaca Pemikiran Muslim Progresif

            Wacana islam progresif hadir semestinya menjadi pembaharu kemajuan islam yang lebih baru. Dimana dengan adanya suatu kemunculan islam progresif tidak bisa dipungkiri bahwa ada tokoh yang mengejawantahkannya. Pada tahun 1999, telah didirikan sebuah jaringan bernama Progressive Muslims Network (PMN) di Toronto, Kanada. [7]  Omid Safi, selaku aktor utama dalam komunitas ini, dalam beberapa pemikiran yang yang dituangkan melalui karya-karyanya, Safi yang mengenalkan sekaligus membumikan muslim progresif, mulai dari penamaan, agenda, alasan, hingga fokus mereka pada ranah pemikiran Islam.

Lantas berapa hari ini? pada hakikatnya kita sebagai muslim bukankah harus berfikir progres. Berfikir bergerak untuk kedepan maju. Dalam hal ini muslim progresif beranggapan bahwa zaman telah berubah dan dengan otomatis nyata juga berubah. [8] Hal itu tidak lain faktor yang mempengaruhinya sosial, ekonomi, politik dll. Indonesia sebagai negara demokrasi dengan tema pemikiran islam progresif.

Mencari muslim progresif sendiri, menawarkan ide tambahan dalam kehidupan masyarakat. Mereka menawarkan aspek bernegara melalui sistem sekularisme.

Sekularisasi yang menyentuh muslim progresif ini adalah desaklarisasi dan demitologisasi masing-masing mengarah pada diferensiasi, pembedaan antara yang sakral dan profan, dan bukan memisahkan peermasalahan dunia dan ukhrowi [9] . Dalam hal ini deferensiasi sangat penting agar tidak mempolitisasi dalam satu sisi. Dan agar agama tidak menjadi beban negara di sisi yang lain. Dalam pandangan muslim progresif, negara yang sehat adalah negara yang demokratis.

Progresif Muslim dari asumsi-asumsi berdasarkan ayat-ayat Al-Quran. Pelajari mereka dalam berbagai masalah yang terkait dengan tiga agenda besar mereka. Keadilan sosial, kesetaraan jender, dan pluralisme merupakan ramifkasi luasluasnya dari tiga asumsi kunci. [10]

Pertama mewujudkan  pengadilan sosial, salah satu tolak ukur seseorang dapat dilakukan muslim sejati nan progresif adalah gabungan dia sanggup memberikan perhatian sosial bagi sesama manusia. Keadilan merupakan hal pokok yang perlu disadari oleh manusia ketika dia mulai berfikir. Karenanya, Muslim Progresif berpendapat bahwa hal yang penting adalah terciptanyakedamaian. Bahwa kedamaian tidak mungkin tercipta sebelum ketidakpuasan yang terjadi dan tidak hanya di artikan hanya “aman” atau “tidak ada perang dan perkelahian”, karena hal itu bisa menjadi kedok untuk memudahkan tirani dan struktur sosil yang tidak adil.

Kedua  mewujudkan kesetaraan gender, muslim yang progresif jika tidak mendiskriminasi kesetaraan gender. Karena salah satu barometer maju Islam terletak pada Karena salah satu barometer kemajuan Islam ditempatkan pada keadialan sosial dan
pluralisme bertumpu pada kesetaraan gender. Dalam perjalanannya diruang publik, gerak perempuan diatasi oleh mereka di rumah kaca. Wanita hanya apat memandng dari bilik jendela, tidak ada yang menjejali aktivitas diluar ruangan.

Apakah mungkin dunia seakan takut dengan ruang gerak mewujudkan perempuan hingga ruang geraknya Konversi? Atau takut mencampur makna laki-laki tersaingi ?. Maka dari itu di dalam hal ini mereka menepis anggapan tersebut dengan memperjuangkan kesetaraan jender. Dan pada dasarnya, program-program yang berkepentingan dari sebuah prinsip yang mendasar yang berlaku untuk sesuatu yang dihadiahkan atau dilewatkan pada kaum wanita, sebab hak-hak yang dimiliki oleh mereka adalah manusia.

Ketiga mewujudkan pluralitas, pluralitas berarti memberikan kebebasan dan kesempaatan bagi setiap orang yang menjalani kehidupan sesuai dengan keyakinan masing-masing, bukan saling terhubung saling mencela, saling mencelakakan dan saling bersatu satu sama lain. Hidup bukan untuk bermusuhan tapi untuk bersinergi bersama bangun keharmonisan manusia.

Pengaruh globalisasi yang sangat cepat merambat ke ranah pikiran manusia saat ini. membuat mereka melupakan saling menghrgai, seakan kelompok merekalah yang paling benar. Masing-masing komunitas, pertimbangkan dan pertimbangkan secara khusus kesadaran masing-masing kelompok dan segala bagian. Karena itu muslim progresif menempatkan plralisme sebagai tantangan besar bukan hanya menjadi muslim tetapi jga untuk manusia. Menurut Safi, pluralisme dapat terwujud untuk kita, untuk menghubungkan dan menghubungkan orang lain atau orang lain dari posisi yang sama.

Penutup

Islam progresif muncul menjadi ide yang di gagas para pemikir muslim progresif. Yang sebelumya ada islam liberal yang pemikirannya tertuju pada ide, sedangkan islam progresif yang terjun langsung ke masalah atau dengan praksis. Bisa dikatakan bahwa islam progresif turunan dari islam liberal. Dalam hal ini mereka menawarkan pemikiran islam ke ranah kemajuan. Melihat konstelasi perkembangan zaman yang maju karena beberapa faktor. Ide ini muncul dan tersedia untuk membaca zaman yang semakin maju.

Tataran yang menguntungkan para pemikir islam progresif merupakan gagasan yang di perjuangkan bagi mewujudkan perdamaian, antara lain yaitu pluralisme, kesetaraan jender dan keadilan sosial. Ketiga tahap ini saling berbicara dalm mewujudkan damai. Sebuah dimensi sosial merupakan wujud representasi dalm mewujudkan kesetaraan gender. Agar seseorang tak melihat wanita hanya dengan sebelah mata. Seakan mereka lemah tidak mampu hidup seperti laki-laki pada umunya. Sehingga pluralisme akan terwujud dengan seseorang memiliki kebebasan dan kesempatan seseorang dalam menjalai hidup.

[1] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Yoyakarta: Pustaka Pelajar, 2006) hal 33.

[2] Ahmad suyuthi. Islam progresif komtemporer: telaah pemikiran abdullah saeed. Dalam Jurnal Ilmiah AKADEMIKA. Vol 6, No 1 , Tahun 2012

[3]Dr. Sahiron Syamsuddin. “Islam Progresif dan Upaya Membumikannya di Indonesia”

https://nahdliyinbelanda.wordpress.com/2007/09/29/islam-progresif-dan-upaya-membumikannya-di-indonesia/

[4] Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Yoyakarta: Pustaka Pelajar, 2006) hal 33.

[5] In’amul mushoffa, “Apa yang progresif dari islam progresif”.

http://islambergerak.com/2017/06/apa-yang-progresif-dari-islam-progresif/

[6] ibid

[7] Ali murfi, Rahmad Nursyahidin, “MUSLIM PROGRESIF” OMID SAFI DAN ISU-ISU ISLAM KONTEMPORER “artikel lepas. 10 mei 2017

[8] Ibid hal 3

[9] Budhy munawar rahcman, Reorientasi Pembaruan Islam: Sekularisme, liberalisme dan pluralisme paradigma baru islam indonesia, Jakarta: paramadina, 2010, hal 183

[10] li murfi, Rahmad Nursyahidin, “MUSLIM PROGRESIF” OMID SAFI DAN ISU-ISU ISLAM KONTEMPORER “Jurnal pendidikan agama islam, Vol.XII, No 2, Desember 2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here